Keamanan kawasan dalam satu komunitas regional marupakan hal
terpenting dalam penunjang keberlangsungan dan keutuhan komuniti
tersebut, dimana kemanan syarat utama untuk menjaga stabilitas kawasan
regional. Asia tenggara adalah bentuk dari regional yang tergabung dalam
ASEAN 1967 (asosiation of southeast asia nation), yang ber-anggotakan
Brunei Darussalam, Philipina, Laos, Kamboja, Malaysia,Indonesia,
Nyanmar, Thailand, vietname dan Singapore. Dari kesemua anggota yang
tergabung, ini memiliki kesamaan konflik yang merupakan konflik laten
dimana, persoalan selalu muncul setiap waktu. Serta konflik internal
domestik juga menjadi pemicu memanasnya isu regional. Seperti yang
diketahui bahwa kawasan Asia tenggara ini saling berdampingan satu sama
lainya, bukan berarti tidak ada permasalahan dianara tetangga apalagi
sudah menjadi anggota komunitas regional. Konflik yang sering timbul
adalah konflik perbatasan dimana territorial ini menjadi permasalahan
yang amat krusial jika dibandingkan dengan permasalahan sosial lainya
karena territorial adalah satu bentuk kedaulatan sebuah Negara yang
harus dipertahankan dan harus dihormati oleh Negara lainya. Sering
terjadi konflik diperbatasan antar negara yang menimbulkan ketegangan
baik secara ekonomi maupun politik. Secara ekonomi, melihat potensi
kerjasam perdagangan Negara tetanga ini begitu kuat sehingga tidak
memungkinkan untuk meneruskan konflik berkepanjangan karena dapat
mempengaruhi perekonomian masing-masing Negara. Secara politik, dilihat
dari hubungan yang terjalin antar Negara asia tenggara ini juga kuat,
karena banyak perjanjian dan kerjasama bilateral yang mumpuni dalam
sama-sama membangun perekonomian dan kesejahteraan bersama. Tetapi dari
permasalahan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa konflik secara luas
yang terjadi tidak benar terseleseikan karena ada pengaruh kepentingan
yang menjadikan konflik itu diduakan, sehingga konflik dapat muncul
kapan saja sehingga memperburuk hubungan Negara itu.
Konflik Asia tenggara merupakan konflik laten yang secara kasat mata
terlihat jelas namun tidak dianggap bahwa konflik tersebut benar-benar
mengancam kedaulatan mereka. Dengan upaya pembentukan ASEAN- ARF hingga
ZOPFAN. Ini tidak menuai hasil yang maksimal untuk menyeleseikan
permasalahan. Dengan pembentukan zopfan misalnya, tidak begitu sempurna
karena permasalahan yang kompleks tidak mendukung itu, apa lagi dari
faktor ketidak matangan pemerintah masing-masing Negara dalam
pembangunan, ini menjadi faktor penting tidak berjalanya zopfan, sering
terjadi konflik perbatasan juga yang memperburuk hubungan bilateral,
yang ujungnya Negara membentengi diri lewat militer. Inilah mengapa zona
peace dan netraliti tidak dapat digunakan dalam kawasan regional
khusunya konflik internal karena potensi konflik sangat kompleks. Peran
Asean regional forum, sebagai wadah dialog antar Negara asia pasifik pun
tidak dapat berjalan efisien dikarenakan persoalan yang ada dan konflik
yang timbul tidak pernah terseleseikan, dikarenakan terselimuti oleh
nilai-nilai dalam komunitas tersebut, seperti asean value, asean way,
dll. Hal yang terpenting dalam pembahasan ini adalah pada Konflik
tumpang tindih antara Negara Asean dan wilayah Asia timur (konflik laut
china selatan), memberikan dampak negative bagi keseriusan ARF dalam
membangun dialog serta konslutasi sebagai media diplomasi. Dan peran
ASEAN sendiri dalam mengatasi konflik ini kurang begitu meyakinkan untuk
menyeleseikan konflik. Dari beberapa rangkaian ringkasan yang telah
diulas diatas tentu memiliki penafsiran sendiri dalam menyikapi
persoalan yang ada, namun Negara-negara yang bertikai ini tidak
memberikan solusi bagaimana konflik dapat disepakati secara jelas (win
solution). Sehingga yang terjadi adalah adanya ego dari kepentingan
masing-masing Negara untuk memenangkannya, yaitu dengan berdasarkan
kepentingan politik dan ekonomi.
A. Geografis laut china selatan
Dilihat dari letak geoggrafisnya laut china selatan memang mejadi
incaran setiap Negara yang berpantai, berikut Negara anggota ASEAN, laut
china selatan terdiri dari dua pulau yang menjadi sengketa antara
negera berpantai asean dan China-Taiwan, yaitu pulau Spartly dan
Paracell. Spartly berada pada 1.100 Km dari pulau Hainan, dan 500 Km
dari pantai Kalimantan bagian utara, yang berdampingan dengan philipina,
vietname, Malaysia dan Indonesia. Sedangkan pulau Paracell berada pada
277,8 Km dari pulau Hainan. Secara laut china selatan ini mempunyai
letak yang strategis bagi sisi ekonomi, sumberdaya dan politis karena,
kawasan ini memiliki banyak potensi sumberdaya yang melimpah, dan
memiliki nilai politis bagai bentuk kerjasama perdagangan international,
laut china selatan merupakan jalur laut paling strategis untuk dilewati
karena merupakan salah satu jalur laut perdagangan international, serta
mengapa berpotensi konflik atas kepemilikan dua pulau tersebut.
B. Konflik laut cina selatan (kepemilikan spartly – Paracell)
Laut china selatan adalah kawasan yang mempunyai nilai tersendiri bagi
Negara terkait, dengan banyaknya potensi yang ada salah satu jalur utama
terbesar perdagangan international ini memberikan eksotika tersendiri
hingga menjadikan konflik yang berantai. Kepualaun spartly dan paracell
jika dilihat dari sejarah, adalha masuk dalam wilayah china, yang
kebanyakan menunjukkan peniggalan-2 yang ada adalah dari china, maka
mengapa dari sejarah itu china mempertahankan kepualauan tersebut. Lain
dari kalim yang di tunjukkan oleh Negara-negara asia tenggara yang juga
menjadikan kepualaun paracell sebagai batas wilayah, karena sumber
percaharian dari rakyatnya ada disitu. Namun anggapan ini dijadikan
bahwa sengketa kalim kepulauan menjadi riskan ketika semua Negara
terkait saling mengkalim. Ada beberapa faktor yang dijadikan landasan
mereka mengkalim kepulaun tersebut diantaranya adalah, faktor sejarah,
masuk daftar peta Negara, dahulunya kepulauan kosong, dan batas wilayah
landas continent. Beberapa faktor jika dilihat lebih dekat dalam peta
dua pulau ini berada pada tengah-tegah lingkaran Negara
bertikai,Malaysia, Bruney, Philipina, Vietname, Kamboja, Thailand,
Taiwan dan China. Selain permasalahan territorial, konflik laut china
selatan ini menjadikan ketidak stabilan kawasan regional ASEAN dimana
Negara yang bertikai termasuk anggota, hal ini mengakibatkan Negara
ASEAN saling memperkuat pertahananya, karena kedaulatan yang mereka
klaim tidak aman untuk dikuasai karena Negara lain juga mengkalimnya.
Mengingat kembali konflik yang mengakibatkan korban berjatuhan, yaitu;
1) ketika China dan vietname bentrokmiliter atas kependudukan pulau
Paracell tahun 1974, kembali terulang pada tahun 1988 tentara china
bentrok dengan Vietnam atas perebutan pulau spartly, yang menelan korban
tenggelamnya kapal vietname.
2) Adanya konfrontasi china-vietname ketika terjadi eksplorasi minyak dalam wilayah perairan international. Tahun 1994
3) Pada tahun 1995 Taiwan menmbaki kapal penyupali vietname
4) Pada tahun 1996 terjadi kontak senjata anta china dan philipina
5) Pada tahun 1998 philipina menembaki kapal nelayan vietname
6) Tahun 2000 tentara philipina menembaki nelayan cina
7) Tahun 2001 tentara Vietnam menembakkkan tembakan peringatan kepada
pesawat pengintai philipina yang mengelilingi pulau spartly.
Dari serangkaian konflik yang terjadi dapat diketahui bahwa konflik
yang terjadi di laut china selatan merupakan konflik yang sangat rawan
akan konfrontasi perang. Pada kenyataanya dapat dilihat hingga sekarang
dominasi china menjadi kuat ketika adanya modernisasi militer di kawasan
tersebut yang menuai protes dari Negara lainya, sehingga Negara-negara
ini juga menigkatkan militer dan persenjatanya untuk antisipasi semakin
besarnya kekuatan china di laut china selatan. Kembali melihat peta
geografis laut china selatan, konflik yangterjadi tidak hanya pada
Negara asean dan asia timur, melainkan mengakibatkan konflik beilateral
antara agota asean, dimana banyak pulau terluar yang menjadi konflik
sehingga mengganggu stabilitas regional. Seperti contoh konflik
bilateral Vietname-Philipina, Malaysia-Brunei, Malaysia-Singapore, dan
Indonesia sendiri. Tentu ini memberikan dampak yang serius bagi hubungan
Negara-negara ASEAN yang menginginkan bentuk perdamaian dikawasan
regional, lewat pembentukan ZOPFAN (zona peace, free and neutrality)
namun sikap yang diambil tidak dapat menggambarkan bahwa konflik yang
terjadi dilaut cina selatan, secara berganda melibatkan Negara anggota
Asean yang mau tidak mau,kondisi ini harus dipertahankan untuk
mempertahankan sebuah kedaulatan yang merupakan aspek terpenting dalam
keutuhan Negara.
C. Konflik bilateral dan peran ASEAN
Teritorial dalam hal ini dapat dikatakan sebagai wilayah keutuhan Negara
yang mencakup batas-batas wilayah yang ada, batas wilayah sendiri
berdasarkan pulau-pulau dan darata atau perairan. Dalam konteks ASEAN
bisa dipahami bahwa Negara kawasan asia tenggara memiliki kompleksitas
persoalan batas wilayah yang belum benar-benar jelas. Dimana setelah
hilangnya Bipolaritas di kawasan asia pasifik khusunya, Negara dibenua
asia mencari pengamanan sendiri, melalu kerjasama ataupun pengutan
perrtahanan. Dari pengaruh konflik laut cina selatan atas territorial
Negara ini menjadikan dilemma bagi kawasan Asia tenggara yang juga
merupakan satu kawasan di benua asia, terlebih adanya negera anggot
asean yang terlibat dalam sengketa tersebut, ini jelas membuat setiap
Negara di Asia tenggara berbenah diri untuk bersikap defence karena
ancaman tentang konflik laut cina akan merembet ke konflik bilateral,
dikarenakan batas wilayah territorial berada berdampingan dan, banyak
pulau terluar yang kurang perhatian, ini mengakibatkan konflik bilateral
si asia tenggara. Seperti konflik Indonesia vs Malaysia atas kepulauan
Legitan dan Sipadan, vietname-philipina di kepualaun spartly, Bruney vs
Malaysia atas sengketa karang diselatan laut Cina, Vietnam vs Malaysia
atas terumbu laying-layang dll.
Dewasa ini Asean sebagai komunitas regional yang independent, atas
lepasnya pengaruh asing dikawasan ini mengalami perubahan bentuk
kerjasama yang lebih menonjolkan kepada sistem keanaman regional, pada
pasca perang dingin dan hilangnya perngaruh asing diwilayah ini, menjadi
lebih tegap untuk Asean membuka diri yang sebelumnya asean tertutup dan
hanya sebatas regional saja, namun pada tahuan 1967 awal berdirinya
Asean, kerjasama demi pertumbuhan ekonomi dan sosial, yang tidak
memperhatikan kemanan regional, dimana yang bentuk kesepakatan awalnya
adalah keamanan, melenceng ke sosial tadi, yang akhirnya menjadikan
missunderstanding diantara Negara anggota. Dari konflik yang terjadi
secara bilateral di wilayah Asia tenggra memberi kesadaran bahwa
perlunya meningkatkan kerjasama kemanan yang lebih untuk menghadapi
ancaman, baik secara tradisional dankerjasam non-tradisional. Dilihat
dari prospek kemanan kedepan, kawan asean ini adalah merupakan kawasan
yang rawan akan konflik mengingat konflik yang terjadi antara Negara
masih dalam Tanya, karena konflik tersebut tertutup oleh kerjasama
ekonomi dan tertutup oleh kultur yang dibentuk di ASEAN yaitu Asean way
dan Asean value dalam menangani permasalahan bersama. Dalam menagggapi
seringnya konflik terjadi dan menghindari adanya konfromtasi baik dari
internal atau eksternal, peran asean dalam komunitasnya sanagt
berkonstribusi untuk memberikan dukungan yang positif untuk
keberlangsungan keanggotaan Asean. Dimana Asean dibentuk sebagai wadah
konsolidasi, dialog bersama khusus wilayah regional Asia tenggara.
Kesimpulan
Dari penjelasan diatas, disini dapat disimpulkan bahwa, sengketa atau
konflik territorial masih membawa dampak yang sangat berbahaya dalam
kawansan regional ASEAN, mengingat bahwa sebagain besar konflik yang
terjadi adalah konfrontasi dan sengketa perbatsan, Asean sebagai wadah
bagai masyarakat Asean hendaknya mampu menciptakan, kondisi yang aman,
dan prean asean sendiri mampu mengatasi permasalahan konflik yang ada,
karena berdiriny Asean awalnya adalah untuk meningkatkan kerjasama
regional, namun sampai sekarang konflik bilateral dengan latar belakang
territorial masih eksist untuk menjadi konflik yag laten.
Asia tenggara sebagai kawasan yang diciptakan untuk bersikap netral dan
mengedepakan kemanan ini menjadi tidak relevan ketika masalah ditubuh
anggota Asean tidak terseleseikan, karena ini akan memicu angkat
senjata, yang menimbulkan ketidakstabilan kawasan.

No comments:
Post a Comment